Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Sumatra Utara

Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terletak di bagian barat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ibukota di Medan.

Kota Medan Begitu Istimewa, Ini 5 Fakta Unik Seputar Kota Medan Kota Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia. Kota ini memiliki berbagai keunikan mulai dari segi bahasa, budaya hingga penduduknya.

Selain itu, meskipun sudah sangat urban, Kota Medan masih menyimpan banyak sekali kearifan lokal yang membuatnya makin menarik untuk dikunjungi.

Ilustrasi kota Medan

1.Bahasa dan logatnya yang unik
Dalam hal berbahasa orang Medan sering kali dianggap kasar. Hal ini dikarenakan aksen bicara orang Medan selalu menyebut huruf e biasa menjadi e nada tinggi.

Selain itu karakteristik orang Medan memang tegas dan ceplas-ceplos. Sehingga ketika kita melihat orang-orang Medan ngobrol satu sama lain terkesan seperti marah. Padahal dari dulu kebiasaan mereka memang seperti itu.

Tak hanya itu, keunikan lain juga terdapat dalam berbagai istilah yang hanya ada di Medan, Misalnya saja motor diganti kereta dan motor adalah istilah untuk mobil. Begitu juga dengan pasar yang artinya adalah jalan besar. Sementara untuk pasar tempat berbelanja orang Medan menyebutnya dengan pajak. Serta tak ada permen di Medan, masyarakat menyebutnya ‘bombon’.

2.Karakter yang kuat
Selain logat yang kental itu, ciri khas Kota Medan lainnya adalah penduduknya yang memiliki karakter yang kuat. Karakter orang Medan yang sudah jadi trademark. Misalnya saja soal percaya diri dan berpegang pada prinsip, orang Medan dianggap paling ahli dalam hal ini.

Karakter orang Medan yang lain, mereka sangat mendominasi. Ya, mereka sangat aktif dalam sebuah grup. Mereka jarang mau mengalah ketika dalam obrolan atau diskusi. Akan tetapi biasanya paling ringan tangan dibanding yang lain.

3. Masyarakat yang plural
Selain sebagai kota metropolitan, Medan sepertinya bisa untuk diberi gelar Little Indonesia atau Indonesia kecil. Pasalnya, Kota Medan penuh dengan keberagaman. Tak hanya penduduk yang tinggal, tapi juga tentang keagamaan, budaya dan sebagainya.

Dari segi penduduknya, Kota Medan ternyata tidak hanya diisi oleh oleh orang-orang Batak saja, namun ada banyak sekali orang Jawa, Tionghoa, Minangkabau, sampai Tamil atau India Indonesia yang tinggal di Medan.

Soal keagamaan juga sama. Meski mayoritas penduduk beragama Islam, namun mereka bisa hidup rukun berdampingan dengan masyarakat Batak yang Kristen atau orang Tionghoa yang beragama Buddha dan Konghucu.

4. Pria dan wanita yang rupawan
Bukan rahasia lagi jika sederet arti-artis yang berasal dari Kota Medan memiliki rupa yang rupawan, sebut saja seperti Chicco Jerikho dan Raline Shah.

Tak hanya tampan dan cantik secara fisik, pria dan wanita di Medan juga terkenal dengan karakter khasnya. Duh sangat ideal bila dijadikan pasangan hidup.

5. Makanan dan obyek wisata
Berbicara kuliner dan wisata di Medan tentu tidak ada habisnya, Kota ini memiliki banyak sekali makanan lezat seperti lemang, lontong Medan, mie gomak, kolak durian serta masih banyak lagi.

Beberapa tempat wisata juga sangat terkenal misalnya Masjid Raya Medan, Istana Maimun, Merdeka Walk, Kuliner Pagaruyung, Pasar Merah Square dan yang lainnya.

Selain keterangan di atas Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang menjadi cagar budaya Indonesia. Berkat masyarakatnya yang masih melestarikan peninggalan warisan budaya, rumah adat Sumatera Utara masih bisa kita jumpai saat ini.

Rumah adat Sumatera Utara tidak hanya terdiri dari satu jenis, melainkan ada banyak ragamnya.

Salah satu hal yang menyebabkan beragamnya rumah adat Sumatera Utara adalah beragamnya suku Batak yang ada di provinsi tersebut, mulai dari Karo, Simalungun, Tapanuli atau Toba, Mandailing, dan Pakpak.

Keunikan Rumah Adat Sumatera Utara

Masing-masing dari suku Batak tersebut memiliki rumah adat sendiri. Meski sama-sama suku Batak, tapi uniknya desain dan arsitektur bangunannya tidaklah sama.

Jika kita perhatikan, perbedaan terbesar dari desain arsitektur bangunan rumah adat Sumatera Utara adalah dari segi desain atapnya.

Bangunan atap rumah adat Sumatera Utara ada yang berbentuk seperti perahu, ada yang berbentuk segitiga runcing, dan ada pula yang berbentuk seperti gunting.

Selain atap rumah adat Sumatera Utara, bagian bentuk depan serta keseluruhan rumah juga tampil berbeda.

Beberapa rumah adat Sumatera Utara ada yang termasuk dalam jenis rumah panggung dan ada yang tidak.

Ketinggian dari rumah panggungnya juga beragam, ada yang hanya memerlukan sekitar lima anak tangga untuk sampai ke depan pintu utama dan ada yang memerlukan hingga sepuluh anak tangga.

Tapi tentu saja ada satu ciri khas yang bisa kita lihat dari rumah adat Sumatera Utara ini, yakni penggunaan warna, baik untuk atap, dinding, lantai, hingga anak tangga. Rata-rata warna yang digunakan adalah merah bata, hitam, putih, cokelat muda, dan orange.

Pemilihan warna ini melambangkan makna tersendiri. Pada warna merah melambangkan kekuatan, putih yang artinya kesucian, hitam yang artinya alam gaib, dan lain sebagainya.

Inilah Rumah Adat Sumatera Utara yang Perlu kita Tahu
Rumah adat Sumatera Utara yang masih bisa kita jumpai hingga saat ini ada sekitar tujuh macam.


1. Rumah Adat Karo

Rumah adat Sumatera Utara yang paling terkenal di Indonesia adalah rumah adat Karo. Rumah adat ini selalu menjadi tujuan wisata budaya yang populer di kalangan turis lokal dan mancanegara.

Rumah adat Karo ini menjadi rumah adat Sumatera Utara yang paling tinggi dan paling besar ukurannya. Tinggi dari rumah adat Karo bahkan ada yang bisa mencapai hingga 12 meter.

Uniknya, walaupun menjadi rumah adat terbesar dan tertinggi di Sumatera Utara, tapi rumah adat Karo ini dibangun tanpa menggunakan paku.

Terdapat enam belas tiang yang bersandar pada batu-batu besar yang menyangga bangunan ini sehingga kuat berdiri.

Untuk bagian atapnya dibuat dari ijuk hitam yang diikat pada kerangka anyaman bambu. Sementara lantainya terbuat dari kayu yang disusun dan dirangkai dengan apik sehingga menempel satu sama lain.

Rumah adat Karo memiliki nama lain yakni rumah adat Siwaluh Jabu yang mengartikan bahwa rumah tersebut dihuni oleh delapan keluarga yang perannya berbeda-beda dalam rumah tangga.

2. Rumah Adat Nias

Rumah adat Nias menjadi rumah adat Sumatera Utara berikutnya yang dari tampilannya tampak lebih mungil dibanding rumah adat Karo. Rumah adat Nias terbagi menjadi jenis, yakni Omo Hada dan Omo Sebua.

Rumah adat Omo Hada adalah rumah adat Nias yang digunakan untuk masyarakat biasa Suku Nias. Sementara untuk rumah adat Omo Sebua diperuntukkan untuk petinggi hingga bangsawan.

Dari segi bentuknya, keduanya ini tak jauh berbeda. Tapi dari ukurannya sangat jauh berbeda. Untuk rumah adat Omo Sebua memiliki tipe rumah panggung dengan tinggi kolong panggung sekitar 2-5 meter.

Sementara pada rumah adat Omo Hada, kolong panggungnya hanya sekitar 1-2 meteran saja.

Rumah adat Sumatera Utara ini dibuat dari kayu nibung yang digunakan sebagai penyangga dan atap yang terbuat dari rumbia untuk rumah adat Omo Hada, sementara untuk rumah adat Omo Sebua menggunakan atap yang dibuat dari tanah liat.

Satu lagi keunikan dari rumah adat Nias ini, yakni pondasinya yang kokoh membuatnya tahan gempa. Pasalnya di dalam pondasi diletakkan balok diagonal yang memberikan fleksibelitas dan stabilitas.

3. Rumah adat Bolon

Rumah adat Bolon termasuk salah satu rumah adat Sumatera Utara yang memiiki tampilan unik karena bentuk atapnya yang mirip dengan pelana kuda dengan bagian ujung yang sangat lancip.

Rumah adat Sumatera Utara ini merupakan rumah panggung yang bagian kolong panggungnya bisa mencapai 1,7 meter dari atas tanah. Bagian dalam rumah adat Bolon tidak bersekat karena dibiarkan terbuka begitu saja.

Rumah adat Bolon ini dibuat dari papan kayu dan atapnya dibuat dari ijuk atau daun rumbia. Sama seperti rumah adat Nias, rumah adat Bolon tidak menggunakan paku melainkan menggunakan tali untuk menyatukan bahan-bahan rumah.

4. Rumah Adat Bagas Godang

Selanjutnya ada rumah adat Bagas Gondang yang seringkali disebut dengan sebutan nama rumah adat Mandailing karena memang berasal dari Suku Batak Mandailing.

Rumah adat Sumatera Utara ini awalnya merupakan tempat tinggal atau tempat beristirahat para raja, namun sekarang sudah menjadi warisan budaya dan bisa digunakan oleh masyarakat suku Mandailing untuk tempat musyawarah dan pertemuan warga.

Rumah adat Sumatera Utara ini memiliki ciri khas bentuk persegi panjang ke belakang dengan bagian atap yang berbentuk segitiga.

Pada bagian atas atap terlihat seperti bentuk gunting. Bagian atap ini dijuluki dengan bentuk tarup silengkung dolok alias bentuk atap pedati.

Bagian atapnya dibuat dari ilalang dan dedaunan kering. Kita bisa melihat pada bagian atap depan terdapat ornamen berwarna merah, putih, dan hitam yang menjadi ciri khasnya.

Sementara untuk bahan bangunannya terbuat dari kayu-kayu besar berjumlah ganjil sebagai penyangga utama.

5. Rumah Adat Pakpak

Di antara rumah adat Sumatera Utara, mungkin rumah adat Pakpak inilah yang memiliki warna tampilan paling cerah karena warna merah dan orangenya mendominasi pada bagian atap dan dinding rumah.

Tapi ada juga rumah adat Pakpak yang masih menggunakan warna hitam dan cokelat pada atap lalu putih pada bagian dinding.

Rumah adat Pakpak memiliki fungsi sebagai tempat untuk melangsungkan musyawarah dalam mencapai penyelesaian masalah di masyarakat.

Keunikan rumah adat Sumatera Utara ini terletak pada bagian atapnya yang mirip seperti tanduk kerbau.

Filosofinya adalah karena atap rumah melambangkan semangat kepahlawanan sehingga pemiliknya memiliki jiwa pahlawan yang kuat.

6. Rumah Adat Simalungun

Saat melihat rumah adat Simalungun, pasti yang terbayang dalam benak kita adalah rumah adat Sumatera Utara ini ukurannya besar sekali.

Dibandingkan dengan rumah adat Sumatera Urara lainnya, bentuknya memang lebih besar.

Ciri khas dari rumah adat Simalungun adalah bangunannya yang berbentuk limas dengan tipe rumah panggung.

Bagian kolong panggungnya ini dibuat setinggi dua meter dengan tujuan untuk menghindari serangan babi hutan serta hewan liar lainnya.

Pada kaki rumah adat Simalungun terdapat kayu-kayu penyangga yang diukir dan diberi warna. Sedangkan pada bagian pintunya sengaja dibuat pendek, tujuannya adalah supaya tamu menghormati pemilik rumah karena akan sedikit membungkuk ketika masuk rumah.

Rumah adat Simalungun awalnya dibangun oleh Raja Simalungun pada sekitar tahun 1939.

Saat ini rumah adat Sumatera Utara ini banyak dijumpai di Kota Pematang Siantar dan Simalungun.

7. Rumah Adat Angkola

Rumah adat Sumatera Utara yang terakhir adalah rumah adat Angkola yang merupakan milik dari suku Batak Angkola.

Bangunannya dibuat dari papan kayu untuk lantai dan dinding, sementara atapnya ada yang dari ijuk dan ada yang menggunakan tanah liat.

Banyak yang menyamakan rumah adat Sumatera Utara ini dengan rumah adat Bagas Godang, tapi keduanya ini berbeda. Mulai dari suku yang mendiaminya hingga bentuk dan pemilihan warna bangunan.

Rumah adat Agngkola memiliki bentuk yang lebih kotak dengan bagian atap yang besar pada bagian depan, lalu ada atap kecil lainnya di atasnya yang berbentuk segitiga.

Rumah adat Angkola juga didominasi dengan warna cokelat tua, orange, dan putih.

Itulah beberapa keunikan rumah adat Sumatera Utara yang beraneka ragam. Semoga rumah adat Sumatera Utara ini masih tetap bisa dilestarikan hingga bertahun-tahun lamanya.

Diterbitkan oleh Rizalsiregarr

Berfikir positif untuk kebaikan dunia dan akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: