REMPAH-REMPAH : hasil bumi Indonesia’.

Rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang beraroma atau berasa kuat yang digunakan dalam jumlah kecil di makanan sebagai pengawet atau perisa dalam masakan. Rempah-rempah biasanya dibedakan dengan tanaman lain yang digunakan untuk tujuan yang mirip, seperti tanaman obat, sayuran beraroma, dan buah kering.

Rempah-rempah merupakan barang dagangan paling berharga pada zaman prakolonial. Banyak rempah-rempah dulunya digunakan dalam pengobatan, tetapi sekarang ini berkurang.

Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku di Indonesia. Rempah-rempah ini pula yang menyebabkan Belanda kemudian menyusul ke Maluku, sementara itu, bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magellan telah lebih dahulu mencari jalan ke Timur melalui jalan lain yakni melewati samudera Pasifik dan akhirnya mendarat di pulau Luzon, Filipina.

Beberapa daerah penghasil rempah-rempah terpenting di dunia adalah India, Zanzibar, dan Kepulauan Maluku. Tetapi kebanyakan negara di dunia mengimpor rempah-rempah dari India karena India merupakan pusat rempah-rempah terbesar di dunia.

Dari negara negara di atas Indonesia juga sudah dikenal sebagai negara dengan rempah-rempah yang melimpah. Saking melimpahnya, pada zaman penjajahan berbagai negara di dunia berambisi dan berburu untuk menguasai rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Wajar saja, pasalnya saat itu rempah-rempah menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bahkan, pada masa penjajahan rempah khas Indonesia memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan emas.

Hingga saat ini, rempah khas Indonesia masih terus populer dan menarik perhatian dunia. Terbukti dari tingginya produk rempah-rempah khas Indonesia yang banyak diekspor ke berbagai negara, seperti lada, cengkeh, pala, hingga kayu manis.

Menurut data dari Katadata, ekspor rempah di Indonesia pada Januari-April 2020 mencapai US$218,69 juta, atau meningkat 19,28% dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya. Tidak sampai di situ, menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO), pada 2016 Indonesia pernah menempati peringkat ke-4 sebagai negara penghasil rempah di dunia!

Lantas, rempah-rempah khas Indonesia apa saja yang paling banyak diekspor? Berikut beberapa di antaranya:

Lada

Lada : rempah-rempah


Tanaman rempah yang banyak tersebar di Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Selatan ini menjadi komoditas rempah utama Indonesia.

Menurut data Kementerian Perdagangan, pada caturwulan pertama tahun 2020 lada menguasai total 18,7% total ekspor rempah Indonesia. Dengan nilai ekspor mencapai 40,88 juta dollar AS.

Lada sering digunakan sebagai bumbu dalam membuat sup dan berbagai tumisan, yang dapat memberikan efek hangat pada tubuh.

Cengkeh

Cengkeh

Cengkeh merupakan rempah asli Maluku yang banyak diincar penjajah. Sebab, pada masa penjajahan cengkeh menjadi salah satu rempah terpopuler dan memiliki harga yang tinggi.

Daerah-daerah penghasil cengkeh di Indonesia antara lain: Jawa Timur, Maluku, Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, hingga Nusa Tenggara Timur. Menurut data per Januari-April 2020, cengkeh termasuk rempah yang paling banyak diekspor setelah lada dengan nilai 37,26 juta dollar AS.

Kayu manis

Kayu manis : Rempah-rempah

Sering digunakan sebagai tambahan roti, kayu manis termasuk rempah Indonesia yang banyak diekspor. Tanaman rempah dengan aroma yang khas satu ini banyak ditemui di Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin, Jambi.

Menariknya, ternyata rempah asal Jambi ini bisa memasok hingga 45% kebutuhan kayu manis di dunia. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor kayu manis adalah Singapura, Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Vanili

Vanili : Rempah-rempah

Jarang diketahui, vanili juga termasuk tanaman rempah khas Indonesia yang banyak diekspor ke luar negeri. Tidak main-main, bahkan Indonesia termasuk pengekspor sekaligus penghasil vanili terbaik dan terbesar di dunia, setelah Madagaskar dan Perancis berdasarkan data pada 2019.

Saat ini sudah ada banyak wilayah di Indonesia yang membudidayakan vanili di antaranya: Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, hingga Nusa Tenggara Timur.

Kapulaga

Kapulaga : Rempah-rempah

Tidak kalah menarik, rempah berbentuk bulat kecil khas Indonesia satu ini juga turut diekspor ke luar negeri. Berdasarkan data Badan Karantina Pertanian, pada kuartal I 2020, ekspor kapulaga dari Sumatera Utara meningkat hingga 54,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Setidaknya, hingga saat ini sudah ada tiga negara utama pengimpor kapulaga asal Sumatera Utara, yaitu Vietnam, Thailand, dan Tiongkok.


Andaliman

Andaliman : Rempah-rempah

Rempah khas Indonesia yang banyak diekspor ke luar negeri selanjutnya adalah andaliman. Andaliman adalah rempah yang memiliki rasa cukup pedas seperti merica, memiliki aroma mirip jeruk tapi lebih lembut, dan digunakan sebagai campuran masakan khas Batak.

Meskipun masih sedikit asing, namun pamor andaliman di dunia kuliner sedang meningkat pesat. Menurut data Kementerian Pertanian, bumbu rempah khas Sumatera Utara ini berhasil diekspor ke Jerman sebanyak 574 kg, dengan nilai Rp431 juta!


Pala

Pala : Rempah-rempah


Satu lagi rempah khas Indonesia yang banyak diekspor ke luar negeri adalah pala. Menurut data per Januari-April 2020, nilai pala utuh mencapai 26,47 juta dollar AS, dan bubuk pala sebesar 7,04 juta dollar AS.

Menariknya, selain menjadi rempah-rempah, tanaman khas Banda dan Maluku juga menjadi komoditas penghasil minyak atsiri. Tidak tanggung-tanggung, pada 2016 pala menjadi komoditas rempah khas Indonesia terbesar ketiga.

Itulah 7 rempah-rempah khas Indonesia yang banyak diekspor ke luar negeri. Sangat membanggakan, bukan?

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai